Sulap Minyak Jelantah, Mahasiswa Ini Sukses Bangun Usaha

Dream – Upaya Andi Hilmy Mutawakkil patut diacungi jempol. Mahasiswa Universitas Negeri Makassar ini bisa mengubah minyak sisa penggorengan (minyak jelantah) menjadi biodiesel.

Andi mengaku terinspirasi alternatif bahan bakar setelah ada krisis BBM pada 2011 yang menyebabkan antrean di beberapa wilayah.

Dia mengatakan, antrean terjadi berkilo-kilometer. Waktu itu, dia masih duduk di bangku SMA dan terdorong untuk mencari solusi yang bisa memecahkan masalah tersebut.

” Mahasiswa yang seharusnya bisa memberikan solusi perubahan, malah hanya mampu berpangku tangan dan berdemonstrasi, tidak memiliki kontribusi solusi,” kata Andi sebagaimana dikutip Dream dari Merdeka.com, Selasa 14 Maret 2017.

” Akhirnya, saya mencari solusi untuk permasalahan ini dari apa yang kami bisa. Akhirnya, kami mencoba meneliti berbagai macam jenis energi sampai akhirnya kami mengembangkan biodiesel dari jelantah,” tambah dia.

Walaupun digagas sejak tahun 2011, Andi baru bisa mewujudkan usahanya pada tahun 2012. Dia pun mengaku kesulitan mendapatkan dana untuk mulai usahanya itu.

Lalu, dia pun mengikuti program Wirausahawan Muda Mandiri (WMM) untuk mencari pendanaan. ” Kami mencoba mencari pendanaan dari pemerintah dan swasta di daerah, tapi tidak mendapatkan bantuan sama sekali,” tutur dia.

Andi mengubah minyak jelantah menjadi biodiesel. (Foto: Merdeka.com)

Andi mulai merekrut teman-temannya untuk bekerja sama, bergabung ke perusahaannya, CV Garuda Energi Nusantara (Gen-Oil). Salah satunya adalah preman pasar. Temannya ini tidak punya pekerjaan karena tidak bisa melanjutkan sekolah.

” Akhirnya, saya ajak dia kerja sama. Saya ajak dia untuk ikut dengan usaha kami,” kata dia.

Andi mengatakan, minyak jelantah pun menjadi sasaran mereka. Minyak bekas ini banyak dijual di pasar tradisional sebagai minyak curah. Padahal, minyak goreng tersebut sudah tidak layak konsumsi dan bisa merusak kesehatan.

Andi pun memutuskan untuk mengolah minyak jelantah menjadi biodiesel.

” Minyak jelantah, nih, sangat kelihatan dampak buruknya. Kami bisa melihat dari peredaran jelantah setiap hari (minyak) itu banyak diperdagangkan oleh pedagang sebagai minyak curah,” kata dia.

Rangkul `Mereka yang Terasing`

Andi mengatakan, preman yang diajaknya bergabung ke Garuda Energi Nusantara menjadi pemasok minyak jelantah untuk usahanya. Bahkan, mantan-mantan preman pasar lainnya pun mulai ikut memasok minyak jelantah untuk Andi.

“ Mereka (preman) ini kelompok masyarakat yang terasing dan tidak punya tempat di masyarakat. Akhirnya, saya mengajak dia sampai akhirnya dia juga ajak teman-temannya untuk bergabung mengumpulkan jelantah sisa dari industri, resto, dan hotel,” kata dia.

Kini, Andi sudah merekrut 25 mantan preman dan mereka memasok minyak jelantah hingga 60 ribu liter perbulan dengan keuntungan Rp1.000 perliter. Kini, puluhan mantan preman ini berubah menjadi agen perubahan yang mencegah peredaran minyak jelantah yang merugikan masyarakat.

Hemat 20 Persen

Andi mengatakan, biodiesel dari minyak jelantah ini didistribusikan kepada nelayan. Harganya murah, sehingga nelayan bisa menghemat pengeluaran 20 persen karena biodiesel yang diproduksinya lebih awet daripada BBM biasa.

Kini, sudah ada 33 kelompok nelayan yang memakai biodiesel Andi. Rencananya, Andi ingin mengembangkan bisnisnya ke taraf nasional dan internasional.

http://bit.ly/2mXFL5m




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *