Sejarah Singkat R.A Kartini

Tugas kita bersama untuk selalu memberikan pemahaman kepada generasi-generasi muda khususnya yang berkaitan dengan jasa para pahlawan,  sebagaimana yang dikatakan oleh Presiden Soekarno “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” dan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para Pahlawan”, kita semua tau, Ibu kartini saat ini sudah tiada, namun semangat perjuangannya harus selalu hidup disetiap jiwa-jiwa generasi muda.

Diakhir era 19 sampai awal era 20 perempuan di negeri ini  tidak mendapatkan perlakuan yang sama dengan laki-laki khususnya dalam hal pendidikan itu berarti perempuan  tidak diperbolehkan mencapai pendidikan yang tinggi seperti  para laki-laki.

Kartini yang merupakan anak dari Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan , ibunya bernama M.A. Ngasirah yang merupakan keturunan tokoh agama di Jepara yaitu Kyai Haji Madirono yang disegani kala itu, Kartini hidup dengan serba kecukupan baik dalam hal materi hingga pendidikan. Sehingga waktu itu Kartini kecil bisa mengenyam pendidikan di ELS (Europese Lagere School) setingkat SD. Padahal pada masa itu, banyak anak-anak sebayanya yang tidak bisa bersekolah.

Selesai rampungkan SD  Kartini memiliki cita-cita yang lebih tinggi, namun harapan itu seolah sirna karena kala itu adanya adat “pingit” (tidak boleh keluar rumah bagi seorang gadis sampai tiba waktunya buat menikah).

Kartini tidak diam, Kartini tetap semangat belajar, banyak bergaul dengan golongan terpelajar. Kartini banyak menulis surat kepada teman korespondensi dari negara Belanda, salah satunya adalah Ny. Rosa Abendanon. Kartini sangat tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa , dan dari situlah Kartini tersadar akan ketertinggalan perempuan pribumi bila ketimbang dengan perempuan bangsa lain, Kartini melihat perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah, untuk mengatasi  permasalahan tersebut salah satunya  yaitu melalui jalur pendidikan.

Kartini banyak membaca surat kabar seperti De Locomotief, Leesstrommel dan majalah wanita De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya terlihat Kartini membaca apa saja, tidak hanya  soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial-budaya. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan dan persamaan hukum sebagai gerakan yang lebih luas.

Singkat cerita Kartini dipersunting oleh KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan Bupati Rembang. Meski sudah istri seorang Bupati, Kartini tetap semangat memperjuangkan hak-hak perempuan dalam hal pendidikan, sehingga Kartini mampu mendirikan sekolah khusus untuk kaum perempuan. Hal tersebut mendapat dukungan penuh dari sang suami. Apa yang dilakukan Kartini tersebut dijadikani contoh oleh perempuan lainnya, sehingga berdirilah ‘Sekolah Kartini’ seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Madiun, dan Cirebon.

Perjuangan RA Kartini  terhenti, beliau meninggal dunia beberapa hari setelah melahirkan putra pertamanya yang bernama Soesalit Djojoadhiningrat pada tanggal 13 September 1904. R.A Kartini meninggal dalam usia 25 tahun tepatnya 17 September 1904.

Makam Kartini terletak di desa Bulu, Kecamatan Bulu (Mantingan), Kabupaten Rembang Jawa Tengah.

Makam Kartini terletak di desa Bulu, Kecamatan Bulu (Mantingan), Kabupaten Rembang Jawa Tengah.

Setelah RA Kartini meninggal  Mr. JH Abendanon yang membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan Kartini kepada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan  Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht, Dari Kegelapan Menuju Cahaya, terbit 1911, dan diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” hal tersebut dilakukan untuk menghargai jasanya atas perjuangannya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.

Terbitnya surat-surat Kartini itu menarik perhatian masyarakat Belanda dan pemikiran Kartini mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap kaum perempuan pribumi. Pemikiran Kartini yang tertuang dalam suratnya menjadi inspirasi bagi tokoh Kebangkitan Nasional Indonesia, seperti WR Soepratman yang menggubah lagu Ibu Kita Kartini.

Atas jasanya tersebut, maka melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964, 2 Mei 1964, Soekarno menetapkan RA Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus ditetapkan Hari Kartini pada tanggal 21 April  yang merujuk pada tanggal kelahirannya. (Bhe)

*Buku Habis Gelap Terbitlah Terang

*Wikipedia

*Sejarah kita




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *