Puisi Karya Taufik Ismail Yang Bikin Eks PKI Geram

 

Masih jelas diingatan kita bagaimana penyair Taufiq Ismail disoraki para peserta simposium korban 1965 beberapa waktu lalu di Hotel Aryaduta Jakarta, Senin (18/4/2016). Para peserta yang menyoraki Taufik diduga merupakan eks anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Taufiq Ismail dianggap memprovokasi peserta  dengan bait puisi tentang rezim komunis yang kejam, begitu juga dengan PKI. Para peserta yang diduga eks anggota PKI melontarkan seruan “Huuuu, Weeeee, Provokator! Itu bukan baca puisi!” kepada Taufiq saat membacakan puisi.

Berikut puisi Taufiq Ismail :

Dua orang cucuku bertanya tentang angka-angka

Datuk-datuk , aku mau bertanya tentang angka-angka

Kata Aidan, cucuku laki-laki

Aku juga, aku juga, kata riani cucuku yang perempuan

Aku juga mau bertanya tentang angka-angka

Rupanya mereka pernah membaca bukuku tentang angka-angka dan ini aga mengherankan

Karena mestinya mereka bertanya tentang puisi

Tetapi baiklah,

Rupanya mereka di sekolahnya di SMA ada tugas menulis makalah

Mengenai puisi, dia sudah banyak bertanya ini itu, sering berdiskusi

Sekarang Aidan dan Raina datang dengan ide mereka

Menulis makalah dengan angka-angka

Begini datuk,

Katanya ada partai di dunia itu membantai 120 juta orang, selama 74 tahun di 75 negara

Kemudian kata Aidan dan Raina, ya..ya.. 120  juta orang yang dibantai

Setiap hari mereka membantai 4500 orang selama 74 tahun di 75 negara

Kemudian cucuku bertanya

Datuk-datuk, ko ada orang begitu ganas?

Kemudian dia bertanya lagi,

Kenapa itu datuk? Mengapa begitu banyak?

Mereka melakukan kerja paksa, merebut kekuasaan di suatu negara

Kerja paksa

Kemudian orang-orang di bangsanya sendiri berjatuhan mati

Kerja paksa

Kemudian yang kedua

Sesudah kerja paksa,

Program ekonomi di seluruh negara komunis tidak ada satupun yang berhasil

Mati kelaparan, bergelimpangan di jalan-jalan

Kemudian yang ketiga,

Sebab jatuhnya puisi ini

Sebabnya adalah mereka membanatai bangsanya sendiri,

Mereka membantai bangsanya sendiri

Di Indonesia

Pertamakali dibawa oleh Musso, dibawa Musso.

Di Madiun mereka mendengarkan pembantaian

 

Karya Taufiq Ismail.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *