Lecehkan Kaum Santri, Ketua Umum GEMASABA Sebut Fahri Hamzah Wahabi

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (DPN GEMASABA), Ghozali Munir mengecam keras pernyataan anggota tim sukses pasangan Prabowo-Hatta, Fahri Hamzah yang menghujat Joko Widodo (Jokowi) dengan sebutan sinting karena menjanjikan 1 Muharam sebagai hari santri nasional.

“Pernyataan Fahri hamzah sangat tendensius, kurang ajar, di luar norma kesantunan dan menunjukkan bahwa kualitas pribadi Fahri kacangan” geram Ghozali.

Lebih jauh menurut Ghozali, pernyataan Fahri hamzah sangat jelas bukan hanya menghina Jokowi tetapi juga menghina kaum santri secara keseluruhan.

“Penggunaan kata “sinting” sungguh di luar kewajaran, jelas sekali menunjukkan bahwa Fahri hamzah memendam kebencian atas kaum santri, hal tersebut mungkin karena Fahri berfaham wahabi atau sudah kemakan doktrin wahabi di komunitas partainya yang dalam sejarahnya kaum wahabi memang selalu menyerang kaum santri” papar Ghozali.

Ghozali menyebut bahwa ini adalah bentuk perang terbuka antara Fahri Hamzah yang mewakili kebencian kaum wahabi dengan kaum santri yang merupakan salah satu pilar kemerdekaan atau tulang punggung berdirinya republik ini.

“Kami merasa ucapan Fahri sangat tidak layak dan sepertinya merupakan sebuah bentuk ungkapan kebencian kaum wahabi atas kaum santri. Seandainya Fahri memahami sejarah betapa besarnya peran kaum santri atas berdirinya republik ini, tentu Fahri tidak akan berani berbicara seperti itu ” imbuh Ghozali.

“Karena itu, DPN GEMASABA menuntut Fahri agar menarik ucapannya dan meminta maaf secara terbuka kepada seluruh kaum santri di seluruh Indonesia dalam waktu 1 x 24 jam ke depan. Jika Fahri tidak mau meminta maaf dan mencabut pernyataannya dalam waktu 1 x 24 jam, maka itu bukti keangkuhan Fahri dan Prabowo beserta tim suksesnya secara umum” jelas Ghozali.

Menurut Ghozali, jika Prabowo atau timsesnya tidak menegur Fahri maka itu adalah bukti bahwa Prabowo dan tim suksesnya hanya memanfaatkan suara kaum santri tetapi di belakang mereka melecehkan kaum santri sehingga pasangan tersebut tidak layak untuk dipilih pada pilpres 9 Juli mendatang.

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *