Kiprah Sahrul Mubarok, Juara Pekan Kreativitas Mahasiswa Kemenristek Dikti

MAGELANG – Bagi sebagian orang, serbuk gergaji (sekam) dianggap sampah. Meski ada pula sebagian lainnya yang memanfaatkan sekam untuk bahan perapian di tungku. Namun, di mata  Sahrul Mubarok, sekam merupakan peluang bisnis. Sedikit memutar otak, dan didukung keterampilan yang dimilikinya, Sahrul mampu menyulap sekam menjadi hasta karya nan cantik dan bernilai ekonomis. Dari kreativitasnya itu pula, mahasiswa Universitas Tidar Magelang itu berhasil memenangi pekan kreativitas mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan oleh Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti).

Sahrul, dibantu empat temannya membuat lukisan yang diberi judul “La Segar”. Berupa sketsa wajah. Atas kreasinya itu pula, Sahrul dan koleganya berhak memperoleh uang pembinaan Rp 7,5 juta dari kementerian.

Keterampilan mengolah sampah kayu itu tak lepas dari daerah kelahiran Sahrul di Jepara. Sahrul taka sing dengan kayu karena di wilayah sentra kerajinan ukir-ukiran itu dia memiliki sebuah toko mebel.
Setiap hari, workshop yang dikelola ayahnya selalu menghasilkan serbuk gergaji dalam jumlah banyak. Dari situ, Sahrul lantas berpikir untuk menjadikan sekam tak terpakai itu agar lebih berdaya guna. Lalu, muncullah ide brilian di benaknya. Sahrul mengolaborasikan sekam untuk memenuhi hasrat hobi melukisnya. Nah, dari situ lahirlah lukisan berbahan dasar serbuk kayu.

“Daripada tak bermanfaat, saya coba buat lukisan dengan serbuk gergaji itu. Sekaligus saya ajukan proposal untuk PKM, eh…ternyata lolos dan dapat dana dari Dikti,” tuturnya.

Mahasiswa penerima beasiswa itu menggunakan bahan pewarna alami untuk mempermanis karya lukisanya. Untuk mendapatkan warna merah, Sahrul mengambil bahan dari kulit pohon waru dan daun jati muda. Sedangkan hitam dari kayu sonokeling.

Butuh waktu cukup panjang untuk menyelesaikan sebuah karya. Sahrul menilai, tingkat kerumitan membuat sketsa wajah cukup tinggi. Bersama empat rekannya Sahrul mampu menyelesaikan lukisan wajah selama 3-5 hari. “Tergantung tingkat kesulitannya,” tutur Sahrul yang didaulat menjadi ketua tim.

Tak hanya sulit dalam pengerjaannya. Memperoleh pengakuan publik pun tidak mudah untuk sebuah hasil karya yang terbilang baru itu.
Putra pasangan Faizul,55 dan Rubaiah,45 itu  mengaku bahwa awalnya  banyak yang meragukan hasil karyanya. “Ada yang bilang bisa cepat jamuran dan mudah rusak,” ucapnya.

Kendati banyak dikritik, niat Sahrul menuntaskan gagasannya tak pernah surut. Terbukti, saat ini banyak kolektor seni memesan hasil lukisannya. Itu setelah dia mampu meyakinkan calon konsumennya bahwa lukisan karyanya awet tanpa jamur dalam jangka lama.

“Ada resep rahasianya supaya tidak berjamur. Saya jamin karya ini awet. Yang penting jangan sampai terkena air,” tutur Sahrul diamini empat rekannya.
Untuk sebuah lukisan sekam, Sahrul membandrolnya Rp 200 ribu untuk ukuran F4. Dia melayani foto diri, sketsa wajah, maupun suvenir wisuda.

radar.jogja




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *