Kerajinan kayu kelapa milik mahasiswa ini sampai Amerika dan Spanyol

Jawa Tengah – Jauh-jauh kuliah di kota Bandung tidak menjadi halangan bagi Rizal Gani Iswari untuk membangun usaha handycraft di Klaten. Di bawah bendera Origin Coconutwood Company, dia menghasilkan beragam handycraft berbahan dasar kayu kelapa untuk diekspor ke negara tetangga seperti Singapura dan Australia. Bahkan penghasilannya mencapai puluhan juta rupiah per bulan.

Umumnya mahasiswa perantauan, pemuda berusia 22 tahun yang akrab disapa Rizal ini berwirausaha bukan sebatas mengurangi beban orangtua mengirimkan uang jajan bulanan. Dengan konsep social entrepreneur (sociopreneur) hasil mengikuti berbagai seminar dan workshop, dia bertekad serius berbisnis sekaligus memberdayakan masyarakat di tanah kelahirannya, Klaten. Alhasil, Rizal bersama temannya Damar Prasetyo Jati pada 2015 mendirikan perusahaan yang berkantor di rumahnya di Dukuh Morangan RT 01 RW 02, Desa Karanganom, Kecamatan Klaten Utara.

“Awalnya mengamati tetangga sekitar yang gengsi enggak mau kerja kasar, inginnya di kantor. Mindset-nya ketika lulus SMA/SMK merantau ke luar kota. Kalau enggak ya hanya jadi pengangguran atau kerja enggak jelas,” kata sulung dari dua bersaudara pasangan Zurianto dan Sri Maryatun yang sempat dilarang orangtuanya karena memiliki usaha sampingan.

Melihat tetangga sekitar, ia lalu terpikir untuk membuat perusahaan dengan bahan baku kayu. “Apalagi ayah saya juga memiliki usaha pengolahan kayu jati untuk konstruksi rumah,” tambahnya.

Berbekal baca buku dan menjelajah internet, serta ilmu kayu dari ayahnya, Rizal memutuskan mendalami seluk beluk pohon kelapa sebagai bahan baku utama produk kerajinannya. Menurutnya, seluruh bagian kelapa, dari mulai batang pohon, daun, buah, hingga akarnya bisa dimanfaatkan.

Selain itu, sejak pertengahan 2016, dia juga memberdayakan petani di Desa Kaliguwo, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo untuk menanam kembali pohon kelapa setelah ditebang. Hal itu untuk menjaga ketersediaan bahan baku usahanya.

“Saya sampai tinggal di Wonosobo berminggu-minggu. Saya amati kebiasaan masyarakat, ternyata batang kelapa dipandang sebelah mata. Padahal serat-serat kayu kelapa, khususnya kelapa merah itu artistik banget ketika sudah jadi produk,” jelasnya.

“Mulai dari pembibitan, produksi, hingga penjualan harus ada edukasinya. Misal bagian produksi, ketika mengerjakan hati (batang kelapa) harus dibuang agar tidak kempes dan mudah melengkung. Jadi harus tahu karakteristiknya. Apalagi kayu kelapa itu termasuk hasil pertanian rakyat, bukan Perhutani,” cerita Rizal lagi yang mengaku awalnya mendapat pasokan kayu kelapa dari Tasikmalaya.

Mahasiswa S1 Manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informatika Telkom University ini tak menampik, pengetahuannya berwirausaha ditempa dari satu kompetisi ke kompetisi lainnya. Bukan hanya menghasilkan ilmu, tapi juga jaringan pertemanan. Selain itu, dia mempromosikan produknya melalui website, dan juga akun media sosial (medsos) youtube, twitter, facebook, dan instagram.

“Kalau ada kompetisi sosiopreneur di Bandung, Jakarta, Malang, Yogyakarta saya datangi. Buka stand untuk branding, cari channel, dan cari modal. Jam terbang juga bertambah. Yang penting biaya sewa (stand) gratis, sesuai kantong,” katanya.

Selain itu, ia juga menggenjot promosi lewat medsos. Seperti membuat video profil dengan mengangkat ikon Klaten di dalamnya. “Karena jujur, saya iri dengan Bandung. Disana ada little Bandung yang menampung kreativitas anak muda berwirausaha. Sedangkan di Klaten?,” ujar Rizal.

Ia mengatakan pertama kali ekspor ke Singapura pada Juli 2016 hasil dari perkenalan ajang sosiopreneurship di Jakarta.

Saat ini, dengan melibatkan tiga orang perajin serta 15 karyawan untuk bagian produksi dan manajemen, Origin Coconutwood Company menghabiskan 1 rit truk berisi 30 batang pohon kelapa per bulan. Dari bahan baku itu, mereka mampu menghasilkan aneka handycraft, mulai dari gantungan kunci, mangkok, nampan, lampu hias, hingga aneka furniture pelengkap ruangan untuk rumah maupun cafe. Adapun harga yang ditawarkan berkisar puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

“Omzet Rp 30 juta- Rp 40 juta per bulan. Ekspor handycraft per bulan tiga sampai empat kardus, berisi 30 item lebih per kardus ke Singapura, Malaysia, Australia, Amerika dan Spanyol. Kalau yang di Maroko kemarin berupa perlengkapan untuk sebuah cafe. Mei atau September nanti juga kirim ke Suriname dan Tokyo. Targetnya tahun ini merambah produksi mebel, dan tentu saja menyelesaikan skripsi,” pungkas Rizal seraya tertawa. (Dit)

(PU)
MERDEKA
http://bit.ly/2ohBiP6



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *