Dari Istghosah ke Revolusi

Oleh: Rabitul Umam

Jika kita membaca kembali sejarah perkembangan berbagai agama akan tampak tugas yang dibebankan kepada beberapa Nabi banyak memiliki kesamaan, sikap keberpihakan para Nabi jelas pada yang lemah dan memimpin perlawanan terhadap segala bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan. Sebagaimana dinyatakan oleh Ali Syari’ati, para Nabi adalah orang-orang yang lahir dari tengah-tengah rakyat, lalu memperoleh tingkat kesadaran (hikmah) yang sanggup mengubah satu masyarakat ang korup dan beku menjadi kekuatan yang bergejolak dan kreatif, yang pada gilirannya melahirkan peradaban, kebudayaan dan pahlawan. Para Nabi datang bukan sekedar mengajarkan zikir dan do’a. Mereka juga datang dengan membawa ideologi pembebasan.
Mereka hadir untuk mengenalkan kepada masyarakat tentang nilai-nilai keadilan yang sering dirampas oleh kaum penguasa. Bersama para Nabi, umat dikenalkan pada konsep kesetaraan, penghormatan kepada kaum yang tidak mampu dan menebar kasih sayang bagi semua orang. Nilai-nilai keagaman sulit akan terwujud jika masyarakat masih dilanda ketimpangan. Karena itulah hampir semua Nabi Ibrahimi selalu memulai langkah dengan tindakan yang revolusioner, seperti Nabi Ibrahim setelah di-SK-kan oleh Tuhan untuk menjadi Rasul, ia langsung menghancurkan berhala-berhala yang dijadikan “alat” oleh penguasa untuk mempertahankan status-quo.
Nabi Musa bersama kaum budak (proletar) memimpin gerakan makar terhadap Fir’aun, Nabi Isa hidup dan berjuang bersama kaum miskin, dan Nabi Muhammad menyampaikan pesan humanisme, emansipasi gender, egaliter, dan mendobrak monopoli modal oleh kaum feodal Mekkah. Nabi Muhammad tidak pernah “jijik” duduk bersama para sahabatnya yang bekas budak seperti Bilal, Ammar bin Yasir, Suhayb, dan Khabab bin Al-Arat. Mereka semua adalah kelas sosial yang tertindas namun mengambil peran historis bagi kejayaan Islam, bahkan nabi tidak pernah melabeli mereka dengan sebutan “anak buah”, tetapi Nabi memanggil mereka dengan sebutan “sahabat”, seorang teman, rekan seperjuangan. Bayangkan, seorang Nabi yang status sosialnya di atas mereka tetapi tidak meberikan jarak hirarki kelas sosial pada para pengikutnya. Sikap egaliter dan sama rasa – sama rata dalam hal sosial dan ekonomi inilah yang menjadikan Islam banyak diikuti oleh mereka yang sejak lama termarjinalkan, teralienasi, dan dipandang sebelah mata.
Sikap-sikap kenabian yang penuh dengan nilai pembebasan dan revolusioner itu saat ini telah direduksi menjadi sikap pasrah dan lemah. Umat Islam dijajah secara ideologis oleh segelintir elit yang mejadi peneguh status quo dan sering meberikan legitimasi bagi tatanan yang korup dengan alasan NKRI atau demi menajaga keutuhan bangsa-negara, tentunya. Seolah-olah rakyat miskin boleh ditindas dan boleh korup asal NKRI tetap utuh.
Hervey Cox mencatat ada lima doktrin yang membuat umat Islam lemah dan kehilangan jiwa revolusioner para Nabi Ibrahimi. Pertama, menganggap kemiskinan adalah sebagai kehendak Allah dimana buah keyakinannya bersifat fatalistik. Memahami “proses” pemiskinan secara terstruktur, sistematis dan masif bukan soal prioritas karena yang utama adalah bagaimana umat dapat memahami bahwa kemiskinan adalah murni “ujian” kesabaran dari Tuhan. Kedua, timbul pelarian yang berujung pada semua masalah semata-mata karena perangai individu. Sikap inilah yang memandulkan komitmen sosial-politik umat sehingga mudah menjadi “boneka” kepentingan segelintir elit. Ketiga, ajaran progresif revolusioner Islam dipugar satu-persatu menjadi ajaran yang hanya berorientasi pada kemenangan akhirat. Seakan umat Islam yang miskin cukup diberi “candu” akan pahala yang akan diterimanya di surga kelak. Pada titik ini pemeluk agama Islam telah kehilangan semangat hidup dan semangat meperjuangkan keadilan. Karena mereka menganggap kehidupan dan keadilan di dunia ini tidak terlalu penting. Keempat, mulai disebarluaskan pemahaman agama yang menekankan pada harmoni, kerukunan, dan toleransi kebablasan guna mempertahankan status quo. Kelima, Islam menjadi agama yang bermuara pada segelintir tokoh yang memegang kendali kekuasaan bahkan pengetahuan tentang baik dan buruk. Itu sebabnya partisipasi masyarakat dalam kehidupan keagamaan menjadi rendah karena gerakan agama menjadi birokrasi baru yang otoriter.
Oleh karena itu untuk konteks Indonesia mestinya Ormas-ormas besar Islam (tidak perlu saya sebutkan satu persatu) mestinya ikut secara aktif memonitor kebijakan pemerintah dan tidak segan-segan melayangkan protes keras apabila ada kebijkan yang menyengsarakan rakyat. Mengeluarkan fatwa haram bagi setiap produk perusahaan yang tidak meberikan upah layak pada buruhnya. Ormas-ormas besar Islam itu mestinya memberikan pendidikan politik kerakyatan kepada anggotanya, mengajak anggotanya berpartisipasi aktif dalam mengawasi pemerintahan di seluruh lapisan, mulai dari tengkat desa, kabupaten/kota, provinsi, sapai pusat. Sehingga anggota Ormas-ormas besar itu tidak hanya mengerti agama dengan baik sebagai bekal akherat mereka, namun juga mengerti tentang sosial-ekonomi-politik dengan cermat agar tidak terus menerus menjadi korban penindasan dan eksploitasi politik. Saya kira di situlah Ormas-oramas besar Islam itu akan ada gunanya bagi rakyat miskin yang mayoritas masih percaya akan kebenaran Islam.
Ruh revolusioner Islam yang telah dicontohkan oleh para Nabi Ibrahimi sudah sepatutnya diaktualisasikan kembali oleh kita. Ruh revolusioner Islam ialah berupa sikap keberpihakan yang jelas terhadap kaum yang lemah (Mustadl’afin). Hadir bersama kaum miskin, memegang erat tangan mereka, ikut merasakan apa yang mereka rasakan, memberikan mereka penguatan ideologi pembebasan dan kemudian bersama-sama menyuarakan tuntutan pada penguasa. Keadilan adalah kata kunci dari ruh revolusioner Islam.
Menurut Hasan Hanafi, pada zaman modern ini yang dibutuhkan bukanlah model tokoh agama yang dapat menunjukkan kecongkakan di muka bumi yang fana ini, bukan pula tokoh agama yang mensosialisasikan doktrin fatalisme dari panggung ke panggung sehingga membuat masyarakat merasa tak berdaya di bawah kolong langit yang luas ini. Yang dicari dan dibutuhkan umat Islam saat ini adalah Tokoh Agama yang dapat memperkuat kepercayaan diri rakyat, menggunakan kemampuan intelektual, mempertebal rasa tanggung jawab sosial, merealisasikan pesan-pesan moral, mempertajam kesadaran kerakyatan, dan mampu menangkap dinamika sejarah.
Sudah saatnya para tokoh agama itu mengurangi cerita tentang Surga yang di langit dalam muatan ceramahnya, tetapi beralih memperbanyak komposisi penyadaran kepada rakyat untuk menentukan nasibnya sendiri, merubah kenyataan hidup yang pahit, dan melawan segala macam penindasan yang terstrukur, sistematis, dan masif. Pencapaian keadilan dan pembebasan yang tertindas tidak akan pernah terwujud hanya dengan istighosah seraya menunggu takdir seperti sulap bim-salabim, keadilan dan pembebasan mutlak membutuhkan perjuangan keras atau bahkan gerakan revolusi. Oleh karenanya dahulu kala Tuhan masih menginterfensi dengan mengutus para Nabi untuk membantu manusia dalam upaya melawan kedzaliman dan penindasan.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *