Bikin Kebun Murbei, Bantu Wirausaha Ulat Sutra

Dr Ir Yulia Pudjiastuti. Foto:Berry Sunisu/Sumatera Ekspres

Ulat sutra, hewan mungil ini dikenal menghasilkan benang sutra yang berharga mahal. Pengrajin songket di Palembang menggunakan bahan dari ulat sutra ini menjadi bahan utama dalam tenun songket. Dr Ir Yulia Pujiastuti, satu satu peneliti dari Fakultas Pertanian di Unsri yang mempelajari ulat sutra. Bagaimana kiprahnya?
——
BERRY SUNISU – PALEMBANG
——
Ditemui di kampus Pasca Sarjana Unsri Bukit, Dr Ir Yulia Pujiastuti terlihat akan memberikan kuliah kepada mahasiswanya. “Siang ini mau mengajar mahasiswa,” kata wanita kelahiran Jogyakarta, 1962 ini tersenyum saat ditemui, kemarin (5/4). Ketika ditanya soal penelitiannya masalah ulat sutra, ibu dua putri itu mengaku itu menjadi bagian dari tugasnya sebagai dosen.
“Penelitian ini menjadi bagian tri darma perguruan tinggi,” tegas perempuan berambut keriting sepunggung ini. Di kampus di FP Unsri, sebutnya, ulat sutra menjadi bagian dari mata kuliah wirausaha, bersama dengan jamur dan serangga berguna sebanyak 2 Satuan Kredit Semester (SKS). Tujuannya mahasiswa setelah tamah kuliah tidak hanya berfikir menjadi pekerja, tapi bagaimana bisa berwirausaha.
Disebut istri dari Yosua Gunartomo ini, awal ketertarikannya mempelajari ulat sutra saat dirinya menempuh pendidikan S3 di Hokaido, Jepang, pada 1996 silam. Menurutnya, di tempatnya kuliah di Hokaido, sudah ada laboratorium khusus untuk pengembangan ulat sutra.
Disana, menurutnya, pengembangan ulat sutra sudah sedemikian maju. “Mereka sudah mengembangkan teknik rekayasa genetika,” ucap wanita yang menempuh pendidikan S1 dan S2 di Universitas Gajah Mada (UGM), Jogyakarta tersebut.
Sehingga benang sutra yang dihasilkan tidak hanya berwarna putih. Tapi sudah beragam warna, seperti kuning dan biru. Warna yang dihasilkan jgua lebih alami, bukan hasil pewarnaan. Di Jepang, lanjut dia, benang sutra digunakan sebagai bahan tenun untuk kimono – baju tradisional rakyat Jepang, sehingga bisa tahan sampai tiga generasi.
Untuk di wilayah Sumsel, disebutnya, belum ada yang melirik potensi usaha pengembangan ulat sutra. Ulat sutra, kata dia, cocok hidup di dataran menengah hingga tinggi. “Karena suhu dan kelembaban harus dijaga, antara 20-25 derajat. Tidak bisa terlalu panas atau dingin, karena ulat sutra bisa mati,” bebernya.
Padahal bila ditekuni secara serius, lanjut dia, usaha tersebut mendatangkan keuntungan cukup besar. Di Palembang, kata dia, benang sutra dipakai sebagai campuran bahan dalam kain tenun songket. Namun, benang songket yang dipakai masih dibeli dari luar negeri, alias impor. Sehingga tak heran harga kain songket yang memakai benang sutra dijual dengan harga mahal.
Menurutnya, salah satu kendala pembiakan ulat sutra adalah investasi lahan dan iklim. Lokasi yang cocok, kata dia, adalah seperti di Semendo (Muara Enim), Pagaralam dan Lahat. Dikatakannya, ulat sutra termasuk serangga yang tergolong mono fitovagus, atau serangga yang hanya makan satu jenis tanaman, yakni daun murbei.
Untuk kebutuhan praktek mahasiswa, di kampus Unsri Inderalaya, juga dibuat kebun murbei di atas lahan seluas setengah hektar. “Jadi bila akan praktek tinggal menggambil daun disana,” katanya. Bibit murbei juga didapat dari daerah Sukabumi, Jawa Barat.
Dengan budidaya ulat sutra, sebutnya, tidak hanya manfaat benang yang dihasilkan. Dari kotoran ulat sutra bisa dijadikan pupuk. Sedangkan dari tanaman murbei bisa dibuat teh dari. “Sedangkan dari buah murbei bisa diolah menjadi makanan olahan semacam selai. Jadi tanaman yang banyak manfaat,” jelasnya sambil tersenyum.
Sedangkan untuk bibit telur ulat sutra, sebutnya, masih didatangkan dari pusat pembibitan ulat sutra (PPUS) di Wonosobo, Jawa Tengah. Dalam satu kotak terdapat 25.000 butir telur ulat sutra. Bibit telur ulat sutra ini yang akan ditetaskan menjadi ulat.
Saat masih kecil, kata dia, ulat sutra akan memakan daun murbei. Diberikan pakan daun dengan cara dirajang berukuran kecil. Dari serangga kecil ini, dihasilkan kokon. Dari kokon ini diambil benang yang nantinya dipintal. Dalam 30-35 hari kokon sudah bisa dipanen. Dari 25.000 butir telur itu, kata dia, bisa menjadi sekitar 40 kg kokon. Untuk 10 kg kokon bisa menjadi 0,5 kg benang. (*)

http://bit.ly/2pxnazF




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *