5 Inovasi Canggih Bikinan Mahasiswa Unair

Sekelompok mahasiswa Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengembangkan sebuah robot medis yang mampu mensterilkan kamar operasi atau kamar bedah. Robot dengan nama LUVIZER (Line Ultraviolet Sterilizer) tersebut merupakan gabungan dari robot line follower dengan alat sterilisasi manual yang dapat dikontrol jarak jauh secara digital menggunakan controller arduino.Komunika Online

Jakarta – Temuan baru kerap berawal dari keingintahuan, adanya problem yang belum terpecahkan, dan penelitian-penelitian. Tak sedikit dari inovasi merupakan hasil penelitian mahasiswa.

Berikut ini lima inovasi mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya dalam dua bulan belakangan ini.

1. Medscupe (Medical Spesimens Cube Shipper), alat yang mempunyai sistem kendali dan kontrol spesimen berbasis pengolahan citra warna.

Alat ini mampu meningkatkan efisiensi proses pelabelan ataupun pengiriman spesimen pasien ke laboratorium. “Sehingga diharapkan dapat meminimalkan terjadinya kasus malpraktek sampel tertukar di laboratorium medis,” kata salah satu anggota tim, Masunatul Ubudiyah, melalui siaran pers, Jumat, 15 Juli 2016.

Medscupe diklaim efektif menjaga sampel tak tertukar pada bagian pipa terakhir yang berhenti di ruang laboratorium medis sebuah rumah sakit. Medscupe, ujar Musanatul, memberi percabangan otomatis yang memiliki kamera scanning citra solusi dan slot khusus pemisah sesuai dengan warna yang dideteksi.

“Dengan begitu, spesimen dengan cepat akan terklasifikasi dan sampai di tempat analisis jenis spesimen masing-masing dengan tepat,” tuturnya.

2. Sekrup Tulang Antibakteri
Patah tulang biasanya ditangani dengan menggunakan sekrup dan pelat berbasis logam, yaitu platina dan stainless steel. Namun kedua bahan ini relatif mahal. Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga Surabaya berupaya menciptakan sekrup tulang yang harganya terjangkau tapi aman digunakan.

“Sekrup kami buat dari nano hidroksiapatit [Ca10(PO4)6(OH)2] dan POC [Poly (1,8-octanediol-co-citrate)]. Sifatnya biodegradable sehingga tidak perlu diambil kembali,” kata Ketua Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta Imroatus, Selasa, 14 Juni 2016.

Sifat biodegradable tersebut tak perlu diambil atau dikeluarkan lagi karena, setelah tulang terfiksasi, sekrup akan terdegradasi dalam sistem metabolisme tubuh.

3. Robot pensteril kamar bedah
Robot itu diberi nama “Line Ultraviolet Sterilizer” alias Luvizer. Inspirasi robot itu datang saat para mahasiswa meneliti isu-isu keamanan pasien hingga malpraktek yang terus menjadi sorotan di bidang kesehatan. Robot sterilisasi ini merupakan gabungan dari robot line follower dengan alat sterilisasi manual yang dapat dikontrol jarak jauh secara digital. Mengontrolnya menggunakan controller arduino, sehingga dapat melakukan desinfeksi ruang operasi.

Proses desinfeksi ini menggunakan cahaya ultraviolet (UV) yang memiliki panjang gelombang cukup pendek untuk membunuh mikroorganisme. Cahaya UV dinilai efektif menghancurkan asam nukleat pada organisme tersebut. Jika DNA-nya terganggu oleh radiasi UV, organisme tak dapat melakukan fungsi-fungsi sel penting, seperti memperbanyak diri.

4. Software pengukur busa pelumas Pertamina
Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga tengah mengembangkan perangkat lunak pengukur kadar busa minyak pelumas bernama FoamLab. Penelitian ini bekerja sama dengan PT Pertamina.

FoamLab menggunakan sistem pemrosesan citra (image processing) sebagai salah satu teknik pengukuran volume busa. Perangkat lunak itu dirancang khusus untuk mengukur tendensi dan stabilitas pelumas. “Dengan bahasa pemrograman delphi sebagai pengolah gambar dan video, kami menggunakan kamera sebagai sensor,” tutur Ketua Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan Teknologi Unair, Nadifah Taqwina Hartrining Pangestuti, Rabu, 8 Juni 2016.

5. Selaput penutup organ pencernaan 
Lima mahasiswa Program Studi Teknobiomedik Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga Surabaya berhasil membuat selaput penutup organ pencernaan. Penutup organ dibutuhkan pasien dengan kasus gastroschisis, yaitu kelainan bawaan lahir pada dinding perut yang terbuka.

“Kami membuat selaput penutup organ pencernaan yang terbuat dari bahan poly-lactid-co-glicolic-acid (PLGA) dilapisi Kitosan yang bersifat biokompatibel (dapat diterima oleh tubuh) dan tidak mengandung senyawa toksik,” ujar ketua tim Karina Dwi Saraswati melalui siaran pers, Jumat, 3 Juni 2016.

tekno.tempo.co/read/news/2016/07/18/061788393/5-inovasi-canggih-bikinan-mahasiswa-unair




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *